Sejarah Proklamasi yang Tak Mampu Dikisahkan Mata Pelajaran Sejarah
Begitu banyak hari bersejarah yang kita peringati tiap tahunnya.Hari Proklamasi merupakan peristiwa paling sakral dalam sejarah bangsa Indonesia. Peristiwa yang bertepatan (atau sengaja dibuat tepat?) dengan hari Jumat, 17 Agustus 1945 itu menjadi awal dari Indonesia yang merdeka dan berdaulat. Tanpa dijajah, tanpa diperintah. Sebuah akhir dari perjuangan panjang selama lebih dari 350 tahun yang tak mengenal kata menyerah.
Setelah hari itu hingga kini, semua mata pelajaran sejarah mendidik anak-anak sekolah untuk tahu dan memahami apa saja yang pernah terjadi sebelum, selama, dan pasca kemerdekaan. Pelajaran itu berjalan lancar dan, anak-anak menjadi tahu siapa yang membuat dan membacakan teks Proklamasi, siapa yang membuat dan mengibarkan bendera Merah Putih, dan hal-hal lain yang ‘terlihat’.
Ya, pelajaran sejarah memang mengajarkan tentang apa yang seharusnya diajarkan, tapi tidak semuanya. Ada banyak hal dan kejadian yang sebenarnya berpengaruh besar pada peristiwa Proklamasi tapi tidak berhasil dicatat sejarah. Atau sengaja dibiarkan? Entahlah…
Yang pasti, 8 sejarah terlupakan berikut ini bisa benar-benar menggambarkan bagaimana sesungguhnya hari tersakral itu terjadi:
1. Malaria tertiana menghantui Bung Karno saat memproklamirkan kemerdekaan
17 Agustus 1945 pukul 08:00 pagi atau dua jam sebelum pembacaan naskah Proklamasi, Bung Karno masih tidur nyenyak di rumah kediamannya di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Cikini. Beliau menderita gejala malaria tertiana hingga membuat suhu badannya tinggi. Terlebih, sebelumnya beliau harus begadang bersama rekan-rekan lain untuk menyusun konsep naskah Proklamasi di rumah Laksamana Maeda.
Sesaat setelah dibangunkan oleh Dr. Soeharto, dokter kesayangannya, Bung Karno berkata bahwa beliau merasa sangat kedinginan. Mendengar hal itu, Dr. Soeharto kemudian mengaliri darah Bung Karno dengan chinineurethan intramusculair dan meminumkan pil brom chinine. Beliau pun tidur lagi dan memilih untuk tidak berpuasa. Benar, Hari itu bersamaan dengan ibadah puasa bulan Ramadhan, tepatnya pada hari ke-8.
Pukul 09:00, Bung Karno kembali bangun. Berpakaian rapi putih-putih dan langsung menemui sahabat beliau, Bung Hatta. Tepat pukul 10:00, keduanya memproklamirkan Kemerdekaan Indonesia di teras rumah. Setelah upacara singkat itu, Bung Karno kembali ke kamar tidurnya untur tidur kembali.
Ya, sebuah revolusi Indonesia paling bersejarah baru saja terjadi.
2. Upacara Proklamasi dibuat sangat sederhana
Tidak seperti upacara memperingati Hari Kemerdekaan sekarang, upacara yang dipimpin Bung Karno pada tanggal 17 Agustus 1945 berlangsung tanpa adanya protokol, korps musik, konduktor, dan pancaragam. Tiang bendera dibuat dari batang bambu dan didirikan hanya beberapa menit menjelang upacara. Sedangkan katrol untuk mengerek bendera Merah Putih dibuat dari gelas bekas sahur milik Bung Hatta.
3. Bendera Pusaka dibuat dari bahan yang tak terduga
Sang Saka Merah Putih yang dikibarkan setelah Bung Karno memproklamirkan kemerdekaan merupakan bendera resmi pertama negara Indonesia. Tapi dari bahan apa bendera itu dibuat? Sederhana saja, warna putihnya dari kain sprei tempat tidur Bung Karno dan Ibu Fatmawati, sedangkan kain milik seorang penjual soto sebagai warna merahnya.
4. Naskah asli Proklamasi tidak pernah disimpan pemerintah hingga tahun 1992
Naskah asli Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang ditulis tangan oleh Bung Karno dan didikte oleh Bung Hatta, tidak pernah dimiliki dan disimpan oleh Pemerintah Indonesia hingga 29 Mei 1992. Lalu, siapa orang yang sebelumnya menyimpan naskah bersejarah itu? Adalah wartawan bernama BM Diah yang menemukannya di keranjang sampah rumah Laksamana Maeda, 17 Agustus 1945 dini hari setelah disalin dan diketik oleh Sajuti Melik.
Pada tanggal 29 Mei 1992, Diah menyerahkan naskah asli itu kepada Presiden Soeharto, setelah menyimpannya selama 46 tahun 9 bulan dan 19 hari.
5. Kita tidak bisa menikmati foto-foto Proklamasi Kemerdekaan tanpa kebohongan Frans Mendoer
Momen-momen Proklamasi 17 Agustus 1945 bisa kita saksikan hingga kini adalah berkat jasa fotografer bersaudara, Alexius Imprung Mendoer dan Frans Sumarto Mendoer, yang merekam semua detik-detik Proklamasi saat itu. Tapi, semua bukti sejarah itu nyaris lenyap ketika tentara Jepang ingin merampasnya. Mengetahui hal itu, Frans Mendoer berbohong dan mengatakan bahwa dia sudah menyerahkan semua negatif film kepada Barisan Pelopor, sebuah gerakan perjuangan.
Yang sebenarnya terjadi adalah, Frans Mendoer menyembunyikan negatif film itu di bawah sebuah pohon di halaman Kantor Harian Asia Raja. Setelah Jepang pergi karena peristiwa Hiroshima-Hagasaki, negatif film itu dicetak dan dipublikasikan secara luas hingga hari ini.
Sebagai informasi, Alexius Imprung Mendoer menjabat sebagai kepala bagian fotografi di kantor berita Jepang Domei, sedangkan adiknya, Frans Sumarto Mendoer adalah fotografernya. Mereka berdua kemudian menjadi anggota dari Indonesia Press Photo Service mulai 2 Oktober 1946.
6. Tokoh proklamator bukan hanya Soekarno-Hatta
Tokoh-tokoh yang hadir pada saat penyusunan naskah Proklamasi tentu tidak hanya Bung Karno dan Bung Hatta saja. Achmad Soebardjo, Sajuti Melik, Soekarni, serta beberapa tokoh penting lain juga hadir di rumah Laksamana Maeda itu. Namun, usul dari Bung Hatta agar semua orang yang hadir ikut menandatangani naskah Proklamasi ditolak oleh Soekarni, salah satu tokoh pemuda di masa itu.
Apa kemudian yang diucapkan oleh Bung Hatta? Dia berkata dengan nada bercanda, “Huh, diberi kesempatan membuat sejarah kok tidak mau.”
7. Perbedaan dua naskah Proklamasi
Kita tahu bahwa ada dua versi naskah Proklamasi, versi Klad (tulisan tangan Bung Karno) dan versi Otentik (tulisan ketik Sayuti Melik). Keduanya sama dalam makna, namun berbeda gaya.
Dalam naskah versi tulisan tangan, beberapa kata yang mengalami perubahan setelah diketik adalah:
Kata “Proklamasi” diubah menjadi “P R O K L A M A S I”,
Kata “Hal2″ diubah menjadi “Hal-hal”,
Kata “tempoh” diubah menjadi “tempo”,
Kata “Djakarta, 17 – 8 – ’05″ diubah menjadi “Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05″,
Kata “Wakil2 bangsa Indonesia” diubah menjadi “Atas nama bangsa Indonesia”,
Juga, pada naskah Proklamasi Klad tidak ditandatangani, sedangkan pada naskah Proklamasi Otentik sudah dibubuhi tanda tangan Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta.
8. Sebagai orator ulung, Bung Karno tidak langsung membacakan naskah Proklamasi
Semua orang mengenal Bung Karno sebagai sosok orator ulung yang pandai berbicara dan mampu mempengaruhi orang banyak. Dan pada peristiwa Proklamasi pun, beliau mengeluarkan keahlian itu dengan berpidato sebentar sebelum membacakan naskah Proklamasi.
Tidak banyak yang mengetahui, berikut ini adalah isi dari pidato beliau:
Saudara-saudara sekalian!
Saya telah meminta Anda untuk hadir di sini untuk menyaksikan peristiwa dalam sejarah kami yang paling penting. Selama beberapa dekade kita, Rakyat Indonesia, telah berjuang untuk kebebasan negara kita-bahkan selama ratusan tahun!
Ada gelombang dalam tindakan kita untuk memenangkan kemerdekaan yang naik, dan ada yang jatuh, namun semangat kami masih ditetapkan dalam arah cita-cita kami.
Juga selama zaman Jepang usaha kita untuk mencapai kemerdekaan nasional tidak pernah berhenti. Pada zaman Jepang itu hanya muncul bahwa kita membungkuk pada mereka. Tetapi pada dasarnya, kita masih terus membangun kekuatan kita sendiri, kita masih percaya pada kekuatan kita sendiri.
Kini telah hadir saat ketika benar-benar kita mengambil nasib tindakan kita dan nasib negara kita ke tangan kita sendiri. Hanya suatu bangsa cukup berani untuk mengambil nasib ke dalam tangannya sendiri akan dapat berdiri dalam kekuatan.
Oleh karena semalam kami telah musyawarah dengan tokoh-tokoh Indonesia dari seluruh Indonesia. Bahwa pengumpulan deliberatif dengan suara bulat berpendapat bahwa sekarang telah datang waktu untuk mendeklarasikan kemerdekaan.
Saudara-saudara:
Bersama ini kami menyatakan solidaritas penentuan itu.
Dengarkan Proklamasi kami :
P R O K L A M A S I
KAMI BANGSA INDONESIA DENGAN INI MENYATAKAN KEMERDEKAAN INDONESIA.
HAL-HAL YANG MENGENAI PEMINDAHAN KEKUASAAN DAN LAIN-LAIN DISELENGGARAKAN
DENGAN CARA SAKSAMA DAN DALAM TEMPO YANG SESINGKAT-SINGKATNYA.
DJAKARTA, 17 AGUSTUS 1945
ATAS NAMA BANGSA INDONESIA.
SUKARNO-HATTA.
Jadi, Saudara-saudara! Kita sekarang sudah bebas!
Tidak ada lagi penjajahan yang mengikat negara kita dan bangsa kita!
Mulai saat ini kita membangun negara kita. Sebuah negara bebas, Negara Republik Indonesia-lamanya dan abadi independen. Semoga Tuhan memberkati dan membuat aman kemerdekaan kita ini!
Apa yang bisa kita pelajari dari sejarah terlupakan di atas? Bahwa sebenarnya kita hanya sibuk mengenang peristiwa-peristiwa yang memang sudah selayaknya dikenang. Bahwa kita tidak terbiasa menggali informasi tentang apa dan bagaimana sebuah peristiwa bisa terjadi.
Bahwa, kita tidak benar-benar bisa mengetahui peristiwa Hari Kemerdekaan Republik Indonesia sampai mengetahui sejarah ini. Kita hanya tahu 17 Agustus 1945, naskah Proklamasi, Ibu Fatmawati dengan bendera Pusaka-nya, dan tentu saja.. Soekarno-Hatta.

